Kamis, 21 Agustus 2008

Jakarta Rock Parade 2008

Siapa pun pasti ingin membuat sejarah; menorehkan nama dalam rentang waktu yang tak tentu. Bahkan seorang kuli bangunan pun pasti mempunyai niatan itu. Soal berhasil atau tidaknya, semua tergantung persepsi orang lain. Seorang kuli bangunan bakal mengklaim bahwa sebuah gedung merupakan buah karyanya, mengingat ada sapuan semen yang diceplok oleh tangannya di beberapa bagian gedung yang dimaksud.

Sama halnya dengan sekumpulan anak muda yang tergabung dalam PT Bagawanta Intra Ganendra (Biganendra). Mereka juga ingin menceburkan diri dalam kolam sejarah. Hanya saja kali ini jejak yang ingin mereka tinggalkan berkaitan dengan dunia musik Indonesia. Entah dari mana iham yang mereka dapat, sebuah gelaran parade rock di Jakarta berhasil dilangsungkan dengan tajuk Jakarta Rock Parade (JRP) yang berlangsung pada 11—13 Juli kemarin. Tema yang meraka ambil, ya, tadi, ‘Let’s makes history’. Tak tanggung-tanggung, empat panggung dengan 100 penampil bakal menjadi pengisi acara, plus beberapa artis internasional. Sebuah niatan yang sungguh berani (bahkan boleh dikatakan bombastis).

Berbicara mengenai perhelatan rock akbar di Jakarta memang bukan barang baru. Di tahun 70-an pernah ada festival serupa yang digelar di Ragunan yang disusul beberapa fesitval lainnya. Namun yang membedakan JRP dengan sesepuhnya adalah konsep. Dari keseluruhan line up artis yang mengisi acara tersebut, terdapat nama-nama seperti Elpamas, Nooer Beersaudara, Gipsy & Gank Pegangsaan, Ucok a.k.a., hingga Andy Tielman (Tielman Brothers). Selain itu, ada juga band-band gress seperti Nidji, Wonderbra, Zeke and the Popo, atau Karon n Roll. Artinya, untuk festival kali ini mereka berniat menggabungkan dua generasi berbeda (termasuk dikotomi indie-major) namun tetap dijalin dengan benang merah yang sama: Rock!

Tapi apa daya, jauh panggang dari api. Di hari pertama, suasana tampak lengang. Yang terlihat hanya rekan-rekan media, sponsor, panitia, dan artis-artis yang akan tampil. Padahal, line up-nya lumayan cadas, seperti Begundal, Teenage Death Star, dan Koil. Untungnya, Suicidal Sinatra dan Rocket Rockers berhasil mencuri perhatian lewat penampilan mereka yang pol-polan. Kelengangan hari pertama ini mungkin diakibatkan oleh harga tiket yang tergolong mahal: Rp200.000 (regular) dan Rp400.000 (spesial).

Hari kedua terlihat lebih baik. Pengunjung mulai tampak berseliweran. Namun ada rumor yang merebak di antara rekan media akan ketidak-becusan penyelenggara. Beberapa artis dikabarkan urung tampil. Ada yang bilang itu masalah honor. Tapi di luar itu, aksi The SIGIT dan Lain sangat memuaskan. Rekti tampak total dengan The SIGIT-nya, sementara Lain berhasil menerbangkan para penonton dengan aroma psikedeliknya. Yang patut dicatat, di hari kedua ini panitia menurunkan harga tiket mereka hingga setengah harga. Dan, di akhir acara, seorang panitia membocorkan kabar bahwa untuk ending, line up yang akan tampi dipangkas menjadi setengahnya. Konsekwensinya, harga tiket masuk hari itu turun drastis menjadi Rp50.000.

Benar saja. Ending JRP ini lumayan banyak pengunjungnya. Wajar kiranya, selain harga tiket yang relatif murah, artis yang akan tampil pun masuk kategori wajib tonton. Ada Flowers, The Brandals, Zeke and The Popo, Elpamas, dan tentu saja the most wanted band shoegaze experimental asal Jepang, Mono. Band yang disebut di atas bermain tanpa cela. Bahkan, Elpamas berhasil meng-cover lagu Pink Floyd dengan sempurna saat menutup penampilan mereka.

Mungkin penyelenggara harus berterima kasih pada Mono karena berkat mereka, JRP kali terasa berkesan oleh sisa-sisa komposisi nuansa bunuh diri yang masih terngiang hingga pulang.

Di luar segala kekurangannya, gelaran JRP patut diacungi jempol karena mereka berani bergerak dan membuat gebrakan besar sesuai dengan konsep Let’s Make History. Ketua panitia, Jimmy, mengucapkan terima kasih serta memohon maaf atas semua kekurangan JRP perdana ini. Beliau menyatakan akan menunggu kita (penonton) di penyelenggaraan tahun depan. Mungkinkah?